Cinta Tapi Beda Part 1
Bismillahirohmanirohim
kesempatan kali ini, gua bakalan menceritakan sebuah perjalanan recomended dari temen gua sendiri, ini cerita nyata yang menurut gua ada pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini. Sebenernya bukan pertama kalinya gua mendengar cerita pengalaman ini, sempat beberapa teman juga pernah kejadian, namun cerita ini datang dari narasumbernya langsung dan mengizinkan gua untuk menceritakannya. mungkin nanti ada sebagian yang akan gua lebih-lebihkan atau gua kurangan agar terkesan lebih menghidupkan cerita tanpa mengurangi maksud dari yang narasumber sampaikan.
sebelumnya perkenalkan terlebih dahulu, nama gua rizal. gua lahir di jakarta, lahir dari sebuah keluarga sederhana yang membesarkan gua dengan penuh cinta. gua mempunyai 3 orang saudara kandung dengan 2 abang dan 1 adik, jadi gua engga sendirian dirumah untuk bisa berbagi canda tawa, karena gua bukan putra satu-satunya dikeluarga hahaha.
gua tumbuh besar di sebuah perkotaan atau biasa kita bilang ibukota, walau domisili gua bukan diibukota, tapi persija menjadi salah satu tim kebanggan yang gapernah lupa untuk menyaksikannya setiap kali persija berlaga, tapi gua bukan lah fanatik dari supporter garis keras, cuman kalau mau dibelah dada, persija sangat gua cinta, entah mengapa tim kebanggan ibu kota menjadi salah satu cinta pertama gua dalam mengenal sepak bola.
Dari cinta sepak bola ini, gua mulai mencintai ciptaan yang langsung diciptakan oleh tuhan semesta, ya, apalagi kalau bukan mencintai manusia, yang berbeda kelamin dengan gua tentunya, dari persija gua mulai mencintai sepak bola, dan dari dia gua mencintai ciptaan tuhan semesta. dan dari sini semua kisah gua akan dimulai.
sebut saja namanya indah, gua mengenal dia semenjak waktu gua duduk dibangku perkuliahan, diawal semester? hmm bukan mungkin bisa dibilang di pertengahan kuliahan, sekitaran semester 2 mungkin gua mulai merasuk dalam cinta terhadap ciptaan tuhan tersebut. indah ini kebetulan satu fakultas dengan gua yang memisahkan kita cuman jarak dan penjurusan hahah, iya rumah gua dan indah itu bagaikan sabang sampai merauke, dari ujung ke ujung, jauh pokoknya kaya harapan gua sama dia yhaaa kwkwkw. dalam artian semenjak gua mengenal indah, hidup gua sedikit demi sedikit berubah. entah mengapa bisa dibilang demikian, dia menjadi alasan gua untuk pergi meninggalkan rumah supaya bisa melihat bidadari yang datangnya dari ujung ibukota.
"ndah" begitu biasa gua sapa dia saat memasuki lorong koridor perkuliahan, waktu itu sudah memasuki awal semester 3 dimana kita baru saja masuk dalam lingkup organisasi yang sama.
"iya zal, kenapa?" sapa indah ke gua dengan tidak lupa menyisipkan senyuman ke gua.
"hari ini boleh gua anter lu pulang" jawab gua coba memberanikan diri.
"hah, mau ngapain? rumah gua jauh zal" indah mempertegas dengan sedikit keanehan diwajahnya.
"hooo yaudah kalau gitu sampai stasiun aja biar engga kejauhan" jawab gua yang berfikir, biar engga kejauhan dan dibalas penolakan, mencoba untuk antar ketempat yang menjadi transitan.
"hahahaha, yaudah boleh, yuk." jawab indah dengan senyumannya
"yuk" sahut gua dan segera bergegas untuk berjalan ke parkiran
dijalan layaknya orang-orang biasa, kami saling bencekrama dengan candaan dan pertanyaan standarnya, tidak lupa juga menanyakan kalimat pertanyaan sambil menawarkan agar bisa berlama-lama hahaha
"buru-buru engga ndah?" tanya gua sambil mengendari kuda besi gua
"engga sih zal" sahut indah
"mampir dulu ga ndah, ngisi perut. perjalanan lu kan jauh tuh, buat jadi ganjelan aja hahah" balas gua penuh harap indah menerima tawarannya.
"haha bisa aja lu, bangke. yaudah ayuk boleh deh" indah menjawab sambil nepuk pundak gua meledek.
indah memang seperti itu, tidak canggung. melainkan bisa juga membawa suasana yang seolah-olah menjadi tidak terlalu kaku.
akhirnya kami mampir disebuah warung pinggiran yang ada di tepi jalan, menikmati sebuah ayam yang diguyurkan dengan minyak panas, yang disajikan dengan lalapan dan sambal tidak ketinggalan.
sambil menyelam minum air, sambil makan sambil basa basi. hahahah istilah yang cocok saat itu karena memang itu tujuan mengajak mampir dulu.
"kok rumah lu jauh banget, kuliahnya disini sih?" tanya gua membuka obrolan
"iya emang kenapa? tranportasi kan udah banyak. jadi gaperlu khawatir kali" sahut indah
"emang ga cape? kenapa ga nge kos aja?" balas gua sambil menyantap hidangan yang kebetulan sudah dihidangkan
"cape sih, cuman mau gimana? gua juga engga diizinin buat nge kos" balas indah sambil menikmati hidangannya
tidak terasa, waktu nyatanya lebih mendukung kami untuk berpisah dibanding bersama hah, karena memang sudah terlalu larut, takut kemalaman juga sampai rumahnya akhirnya gua mengantarkan dia ke stasiun transitan untuk melaju sampai ujung ibukota. habis sudah hari pertama dimana awal kisah kita bedua akan kita karang dengan berbagai campuran problematika, baik dari sisi kuliah, organisasi, sampai kerabat yang menjadi santapan kita.
hari-hari berikutnya, gua jadi sering untuk pergi berdua, dengan berbonceng sepeda besi bertenaga kuda yang gua punya, hampir setiap hari mengantarkan ke tempat transitan dia untuk menuju ujung ibukota. tak lupa juga kami semakin sering untuk membagi cerita kami berdua, walau tidak terlalu sering namun cukup konsisten dalam membagi cerita. mulai dari sebuah masalah sampai kebahagian yang walaupun hanya setitik kebahagian didalamnya, tetap kami berbagi. tidak lupa juga kadang menyepatkan makan bersama.
pernah pada disewaktu acara ada pentas pertunjukan ajang pencarian bakat dimana kami dipasangkan dan harus bejalan dengan gaya, hampir saja kami menjadi juara, namun juri berkata lain kami hanya menjadi penghibur suasana,ya cukuplah dibanding dengan tidak bisa membuat kebahagian sekitar.
hahaha
dan akhirnya gua mencoba memberanikan diri dengan mengatakan semua yang gua rasa kepada indah. karena memang sudah cukup lama saya dekat namun tidak tahu apa statusnya. tepat dibulan april gua mengutarakan semua perasaan gua, gua ungkapin semuanya ke indah, yang dimana indah juga agak sempat tercengang, tapi tentu sebagai lalaki, yang notabanenya sudah tau jawabannya belagak agak sok aja, kekhawatiran yang gua pancarkan dari wajah, seakan membuat indah merasa yakin bahwa bisa menjalin hubungan, dan benar saja, tepat dibulan april kami berdua mutlak berpacaran.
bersambung...
kesempatan kali ini, gua bakalan menceritakan sebuah perjalanan recomended dari temen gua sendiri, ini cerita nyata yang menurut gua ada pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini. Sebenernya bukan pertama kalinya gua mendengar cerita pengalaman ini, sempat beberapa teman juga pernah kejadian, namun cerita ini datang dari narasumbernya langsung dan mengizinkan gua untuk menceritakannya. mungkin nanti ada sebagian yang akan gua lebih-lebihkan atau gua kurangan agar terkesan lebih menghidupkan cerita tanpa mengurangi maksud dari yang narasumber sampaikan.
sebelumnya perkenalkan terlebih dahulu, nama gua rizal. gua lahir di jakarta, lahir dari sebuah keluarga sederhana yang membesarkan gua dengan penuh cinta. gua mempunyai 3 orang saudara kandung dengan 2 abang dan 1 adik, jadi gua engga sendirian dirumah untuk bisa berbagi canda tawa, karena gua bukan putra satu-satunya dikeluarga hahaha.
gua tumbuh besar di sebuah perkotaan atau biasa kita bilang ibukota, walau domisili gua bukan diibukota, tapi persija menjadi salah satu tim kebanggan yang gapernah lupa untuk menyaksikannya setiap kali persija berlaga, tapi gua bukan lah fanatik dari supporter garis keras, cuman kalau mau dibelah dada, persija sangat gua cinta, entah mengapa tim kebanggan ibu kota menjadi salah satu cinta pertama gua dalam mengenal sepak bola.
Dari cinta sepak bola ini, gua mulai mencintai ciptaan yang langsung diciptakan oleh tuhan semesta, ya, apalagi kalau bukan mencintai manusia, yang berbeda kelamin dengan gua tentunya, dari persija gua mulai mencintai sepak bola, dan dari dia gua mencintai ciptaan tuhan semesta. dan dari sini semua kisah gua akan dimulai.
sebut saja namanya indah, gua mengenal dia semenjak waktu gua duduk dibangku perkuliahan, diawal semester? hmm bukan mungkin bisa dibilang di pertengahan kuliahan, sekitaran semester 2 mungkin gua mulai merasuk dalam cinta terhadap ciptaan tuhan tersebut. indah ini kebetulan satu fakultas dengan gua yang memisahkan kita cuman jarak dan penjurusan hahah, iya rumah gua dan indah itu bagaikan sabang sampai merauke, dari ujung ke ujung, jauh pokoknya kaya harapan gua sama dia yhaaa kwkwkw. dalam artian semenjak gua mengenal indah, hidup gua sedikit demi sedikit berubah. entah mengapa bisa dibilang demikian, dia menjadi alasan gua untuk pergi meninggalkan rumah supaya bisa melihat bidadari yang datangnya dari ujung ibukota.
"ndah" begitu biasa gua sapa dia saat memasuki lorong koridor perkuliahan, waktu itu sudah memasuki awal semester 3 dimana kita baru saja masuk dalam lingkup organisasi yang sama.
"iya zal, kenapa?" sapa indah ke gua dengan tidak lupa menyisipkan senyuman ke gua.
"hari ini boleh gua anter lu pulang" jawab gua coba memberanikan diri.
"hah, mau ngapain? rumah gua jauh zal" indah mempertegas dengan sedikit keanehan diwajahnya.
"hooo yaudah kalau gitu sampai stasiun aja biar engga kejauhan" jawab gua yang berfikir, biar engga kejauhan dan dibalas penolakan, mencoba untuk antar ketempat yang menjadi transitan.
"hahahaha, yaudah boleh, yuk." jawab indah dengan senyumannya
"yuk" sahut gua dan segera bergegas untuk berjalan ke parkiran
dijalan layaknya orang-orang biasa, kami saling bencekrama dengan candaan dan pertanyaan standarnya, tidak lupa juga menanyakan kalimat pertanyaan sambil menawarkan agar bisa berlama-lama hahaha
"buru-buru engga ndah?" tanya gua sambil mengendari kuda besi gua
"engga sih zal" sahut indah
"mampir dulu ga ndah, ngisi perut. perjalanan lu kan jauh tuh, buat jadi ganjelan aja hahah" balas gua penuh harap indah menerima tawarannya.
"haha bisa aja lu, bangke. yaudah ayuk boleh deh" indah menjawab sambil nepuk pundak gua meledek.
indah memang seperti itu, tidak canggung. melainkan bisa juga membawa suasana yang seolah-olah menjadi tidak terlalu kaku.
akhirnya kami mampir disebuah warung pinggiran yang ada di tepi jalan, menikmati sebuah ayam yang diguyurkan dengan minyak panas, yang disajikan dengan lalapan dan sambal tidak ketinggalan.
sambil menyelam minum air, sambil makan sambil basa basi. hahahah istilah yang cocok saat itu karena memang itu tujuan mengajak mampir dulu.
"kok rumah lu jauh banget, kuliahnya disini sih?" tanya gua membuka obrolan
"iya emang kenapa? tranportasi kan udah banyak. jadi gaperlu khawatir kali" sahut indah
"emang ga cape? kenapa ga nge kos aja?" balas gua sambil menyantap hidangan yang kebetulan sudah dihidangkan
"cape sih, cuman mau gimana? gua juga engga diizinin buat nge kos" balas indah sambil menikmati hidangannya
tidak terasa, waktu nyatanya lebih mendukung kami untuk berpisah dibanding bersama hah, karena memang sudah terlalu larut, takut kemalaman juga sampai rumahnya akhirnya gua mengantarkan dia ke stasiun transitan untuk melaju sampai ujung ibukota. habis sudah hari pertama dimana awal kisah kita bedua akan kita karang dengan berbagai campuran problematika, baik dari sisi kuliah, organisasi, sampai kerabat yang menjadi santapan kita.
hari-hari berikutnya, gua jadi sering untuk pergi berdua, dengan berbonceng sepeda besi bertenaga kuda yang gua punya, hampir setiap hari mengantarkan ke tempat transitan dia untuk menuju ujung ibukota. tak lupa juga kami semakin sering untuk membagi cerita kami berdua, walau tidak terlalu sering namun cukup konsisten dalam membagi cerita. mulai dari sebuah masalah sampai kebahagian yang walaupun hanya setitik kebahagian didalamnya, tetap kami berbagi. tidak lupa juga kadang menyepatkan makan bersama.
pernah pada disewaktu acara ada pentas pertunjukan ajang pencarian bakat dimana kami dipasangkan dan harus bejalan dengan gaya, hampir saja kami menjadi juara, namun juri berkata lain kami hanya menjadi penghibur suasana,ya cukuplah dibanding dengan tidak bisa membuat kebahagian sekitar.
hahaha
dan akhirnya gua mencoba memberanikan diri dengan mengatakan semua yang gua rasa kepada indah. karena memang sudah cukup lama saya dekat namun tidak tahu apa statusnya. tepat dibulan april gua mengutarakan semua perasaan gua, gua ungkapin semuanya ke indah, yang dimana indah juga agak sempat tercengang, tapi tentu sebagai lalaki, yang notabanenya sudah tau jawabannya belagak agak sok aja, kekhawatiran yang gua pancarkan dari wajah, seakan membuat indah merasa yakin bahwa bisa menjalin hubungan, dan benar saja, tepat dibulan april kami berdua mutlak berpacaran.
bersambung...
Ditunggu part 2 nya
ReplyDeletekeren bang cinta tapi beda👍🏻
ReplyDelete